
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebelum Nabi Muhammad SAW wafat, beliau sama sekali tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menjadi pengganti pemimpin politik umat Islam.Rasulullah SAW tampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum Muslimin sendiri untuk menentukannya.
Sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar pun berkumpul di Balai Kota Bani Sa'idah, Madinah untuk membahas keberlanjutan tongkat kepemimpinan dari Rasulullah SAW. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih sebagai pemimpin. Namun, musyawarah ini berjalan alot karena masing-masing pihak merasa berhak dalam memimpin umat Islam.
Dalam buku Sejarah Peradaban Islam karya Drs Badri Yatim MA diceritakan, setelah berbagai pertimbangan dilakukan, terpilihlah Abu Bakar sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.
Semangat ukhuwah yang tinggi membuat ia mendapat penghargaan yang tinggi dari umat Islam. Abu Bakar memegang tongkat kepemimpinan selama dua tahun. Dalam masa dua tahun ini dihabiskan untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri, terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau lagi tunduk kepada pemerintahan Madinah. Mereka merasa ketika Nabi Muhammad wafat, perjanjian yang ada juga ikut batal.
from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2RjJjPhBagikan Berita Ini
0 Response to "Kemajuan Islam pada Zaman Khilafah Rasyidah"
Post a Comment